Diabetes Mellitus Tipe 1 New

download Diabetes Mellitus Tipe 1 New

of 17

  • date post

    28-Jan-2016
  • Category

    Documents

  • view

    220
  • download

    0

Embed Size (px)

description

Farmakologi

Transcript of Diabetes Mellitus Tipe 1 New

DIABETES MELLITUS TIPE 1

A. GEJALADiabetes tipe 1 lebih jarang dijumpai dibanding diabetes tipe 2, ditandai oleh defisiensi insulin yang berat. Penyakit ini sering mengenai individu berusia kurang dari 30 tahun, insiden puncak terjadi saat pubertas. Meskipun destruksi autoimun sel tidak terjadi secara akut, gejala klinisnya muncul mendadak. Pasien mengalami poliuria, polidipsia, polifagia, dan penurunan berat badan serta peningkatan mencolok kadar glukosa serum dalam beberapa hari atau minggu. Badan keton juga meningkat akibat ketiadaan insulin, yang menyebabkan asidosis berat yang dapat mengancam nyawa (ketoasidosis diabetes). Oleh karena itu, pasien dengan DM tipe 1 memerlukan terapi dengan insulin (McPhee, 2010).

B. ETIOLOGI DAN PATOFISIOLOGIGangguan produksi insulin pada DM Tipe 1 umumnya terjadi karena kerusakan sel-sel pulau Langerhans yang disebabkan oleh reaksi autoimun. Namun ada pula yang disebabkan oleh bermacam-macam virus, diantaranya virus Cocksakie, Rubella, CMVirus, Herpes, dan lain sebagainya (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2005).Salah satu teori yang menjelaskan etiologi DM tipe 1 adalah kerusakan sel-sel beta pankreas akibat faktor infeksi dan lingkungan yang menjadi penyebab sistem imun yang berhubungan dengan genetik. Selanjutnya berkembang menjadi respon imun yang melawan sel beta pankreas yang sudah menyatu dengan protein virus. Bagaimana pun juga, autoimun perlu dipertimbangkan sebagai faktor utama pada patofisiologi DM tipe 1.Ada beberapa tipe autoantibodi yang dihubungkan dengan DM Tipe 1, antara lain ICCA (Islet Cell Cytoplasmic Antibodies), ICSA (Islet cell surface antibodies), dan antibodi terhadap GAD (glutamic acid decarboxylase). ICCA merupakan autoantibodi utama yang ditemukan pada penderita DM Tipe 1. ICCA tidak spesifik untuk sel-sel pulau Langerhans saja, tetapi juga dapat dikenali oleh sel-sel lain yang terdapat di pulau Langerhans (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2005).

Gambar 1. Patofisiologi Diabetes Mellitus Tipe 1(http://1.bp.blogspot.com/dsTq6aLCSXg/T2PF6mYIRaI/AAAAAAAAAAo/t61uHHmISX4/s640/Pathogenesis.jpg)

Pada pancreas terdapat pulau Langerhans, di mana di dalamnya terdapat beberapa tipe sel, yaitu sel , sel dan sel . Sel-sel memproduksi insulin, sel-sel memproduksi glukagon, sedangkan sel-sel memproduksi hormon somatostatin. Pada DM tipe 1 umumnya terjadi karena kerusakan sel-sel pulau Langerhans yang disebabkan oleh reaksi autoimun (Direktorat Bina Farmasi Komunitas dan Klinik, 2005).Patogenesis diabetes mellitus tipe 1 berhubungan dengan ketidakseimbangan antara sel Treg dan sel Teff (effector T-cells) (Bluestone, Herold, and Eisenbarth, 2010). Pada pasien non-diabetes, immature dendritic cells (IDC) mengaktifkan pengaturan T-limfosit (Treg), di mana menginduksi toleransi sentral sehingga tidak ada kematian sel- . Sementara pada penderita diabetes mellitus tipe 1, terjadi ketidakseimbangan sel Treg dan sel Teff (sel T CD4+ efektor) sehingga mengakibatkan proses apoptosis sel terjadi (Csorba, Lyon, and Hollenberg, 2010).Pada pasien diabetes mellitus tipe 1, DCs bind melepaskan antigen sel dari pulau Langerhans dan mengekspresikan MHC (Major Histocompatibility complex)/molekul Human leukocyte antigen (HLA) kelas 1. Molekul MHC berikatan dengan sel T CD8+ sehingga mengakibatkan terjadi pelepasan sitokin sitotoksik (IFN-gamma dan granzyme). Di dalam pancreas setelah menerima rangsangan dari luar, sel pada islet Langerhans melepaskan antigen sel . Antigen tersebut akan ditangkap oleh sel iDCs (immature dendritic cells) dan dimigrasikan ke dalam kelenjar getah bening. Selama bermigrasi iDCs ini menjadi mature dan diekspresikan dengan molekul MHC kelas II. Antigen ini akan dikenali oleh sel T CD4+, yang kemudian berdiferensiasi menjadi sel T efektor CD4+ yang bersifat autoreaktif (Summers, Marleau, Stephens, Mahon, and Singh, 2004). Kemudian terjadi pengekspresian adhesi molekul dan reseptor chemokine, lalu bermigrasi. CD95L sebagai mediator killing akan memediasi terjadinya apoptosis pada sel .Di jalur lain, sel T CD4+ efektor (sel Teff) yang diaktifkan akan melepaskan sitokin pro-inflamasi, seperti IL-2, IL-12, IFN- dan TNF-, yang kemudian akan terjadi respon inflamasi (insulitis). Sel- pankreas mengalami apoptosis yang juga diperantarai oleh IL-1 dan tumor necrosis factor (TNF) cytokines (Roncarolo and Battaglia, 2007).C. PENATALAKSANAAN1. Tujuan Terapi Untuk mempertahankan kadar glukosa darah dalam kisaran normal, dipertahankan dalam kondisi