Refrat RHF Dg MS

download Refrat RHF Dg MS

of 51

  • date post

    01-Dec-2015
  • Category

    Documents

  • view

    40
  • download

    1

Embed Size (px)

description

rh

Transcript of Refrat RHF Dg MS

PAGE

BAB IPENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Rheumatic Heart Disease (RHD) merupakan komplikasi yang membahayakan dari demam reumatik. Proses perjalanan penyakit yang dimulai dengan infeksi tenggorokan yang disebabkan oleh bakteri Streptococcus hemoliticus tipe A yang bisa menyebabkan demam reumatik. Kurang lebih 39 % pasien dengan demam reumatik akut bisa terjadi kelainan pada jantung mulai dari insufisiensi katup, gagal jantung, perikarditis bahkan kematian. Dengan penyakit jantung reumatik yang kronik, pada pasien bisa terjadi stenosis katup dengan derajat regurgitasi yang berbeda-beda, dilatasi atrium, aritmia dan disfungsi ventrikel. Rheumatic Heart Disease masih menjadi penyebab stenosis katup mitral dan penggantian katup pada orang dewasa di Amerika Serikat.1 Menurut Hudak dan Gallo (1997), adanya malfungsi katup dapat menimbulkan kegagalan pompa baik oleh kelebihan beban tekanan (obstruksi pada pengaliran keluar dari pompa ruang , seperti stenosis katup aortik atau stenosis pulmonal), atau dengan kelebihan beban volume yang menunjukan peningkatan volume darah ke ventrikel kiri sehingga sebagai produk akhir dari malfungsi katup akibat penyakit jantung reumatik adalah gagal jantung kongestif.2

Menurut laporan WHO Expert Consultation Geneva 29 Oktober-1 november 2001 yang diterbitkan tahun 2004 menyebutkan, sekitar 7,6/100.000 penduduk di Asia Tenggara, 8,2/100.000 penduduk di negara berkembang dan 0,5/100.000 penduduk di negara maju menderita rheumatic heart disease.3RHD lebih sering terjadi pada penderita yang menderita keterlibatan jantung yang berat pada serangan DR akut. RHD kronik dapat ditemukan tanpa adanya riwayat DR akut. Hal ini terutama didapatkan pada penderita dewasa dengan ditemukannya kelainan katup. Kemungkinan sebelumnya penderita tersebut mengalami serangan karditis rematik subklinis, sehingga tidak berobat dan tidak didiagnosis pada stadium akut. Kelainan katup yang paling sering ditemukan adalah pada katup mitral, kira-kira tiga kali lebih banyak daripada katup aorta.Stenosis mitral merupakan suatu keadaan dimana terjadi gangguan aliran darah pada tingkat katup mitral oleh karena adanya perubahan pada struktur mitral leaflets, yang menyebabkan gangguan pembukaan sehingga timbul gangguan pengisian ventrikel kiri saat diastol.1,2,3Stenosis mitral merupakan penyebab utama terjadinya Rheumatic Heart Disease di negara-negara berkembang.3,4 Di Amerika Serikat, prevalensi dari stenosis mitral telah menurun seiring dengan penurunan insidensi demam rematik. Pemberian antibiotik seperti penisilin pada streptococcal pharyngitis turut berperan pada penurunan insidensi ini.3 Berdasarkan penelitian yang dilakukan diberbagai tempat di Indonesia, penyakit jantung valvular menduduki urutan ke-2 setelah penyakit jantung koroner dari seluruh jenis penyebab penyakit jantung.2 Dari pola etiologi penyakit jantung di poliklinik Rumah Sakit Mohammad Hoesin Palembang selama 5 tahun (1990-1994) didapatkan angka 13,94% dengan penyakit katup jantung.1Suatu faktor penting yang mempengaruhi insidens Rheumatic Heart Disease adalah ketepatan diagnosis dan pelaporan penyakit. Sampai sekarang belum tersedia uji spesifik yang tepat untuk menegakkan diagnosis Rheumatic Heart Disease. Terdapat kesan terdapatnya overdiagnosis Rheumatic Heart Disease, sehingga diharapkan dengan kriteria diagnosis yang tepat, pengertian dan kemampuan untuk mengenal penyakit ini serta kesadaran para dokter untuk menanggulanginya merupakan hal yang sangat penting dalam menurunkan insidens penyakit ini.B. Tujuan Penulisan

Tujuan penulisan tinjauan pustaka ini adalah:

1. Untuk mengetahui anatomi jantung

2. Untuk mengetahui definisi, etiologi, faktor risiko, patogensis dan cara mendiagnosis rheumatic heart disease dengan stenosis mitral3. Untuk mengetahui penatalaksanaan rheumatic heart disease dengan stenosis mitralBAB II

TINJAUAN PUSTAKAA. RHEUMATIC HEART DISEASE (RHD)1. Definisi

Menurut WHO, Rheumatic Heart Disease (RHD) adalah cacat jantung akibat karditis rematik. Menurut Afif. A (2008), RHD adalah penyakit jantung sebagai akibat adanya gejala sisa (sekuele) dari Demam Rematik (DR), yang ditandai dengan terjadinya cacat katup jantung. RHD adalah hasil dari DR, yang merupakan suatu kondisi yang dapat terjadi 2-3 minggu setelah infeksi streptococcus beta hemolyticus grup A pada saluran napas bagian atas.18Demam reumatik (DR) adalah sindrom klinik akibat infeksi kuman streptococcus beta hemolytikus grup A, dengan satu atau lebih gejala mayor yaitu poliartritis migrans akut, karditis, korea minor, nodul subkutan atau eritema marginatum. Demam reumatik akut (DRA) adalah istilah untuk penderita demam rematik yang terbukti dengan tanda radang akut. Demam reumatik inaktif adalah istilah untuk penderita dengan riwayat demam rematik tetapi tanpa terbukti tanda radang akut. Rheumatic Heart Disease (RHD) adalah kelainan jantung yang ditemukan pada DRA atau kelainan jantung yang merupakan gejala sisa ( sekuele) dari DR.2. Anatomi dan Fisiologi Jantung

1. ANATOMI JANTUNG

Jantung (cor) berbentuk conus dengan basis terletak di dorsocraniodexter dan apex di ventrocaudosinister. Jantung memiliki 3 facies, yaitu facies sternocostalis, facies diaphragmatica dan facies pulmonalis. Bagian dalam jantung terdiri atas 4 ruang yaitu atrium cordis dextrum dan sinistrum serta ventriculus cordis dexter dan sinister. Antara atrium cordis dextrum dan sinistrum dibatasi septum interatriale. Padanya terdapat fossa ovalis yang merupakan obliterasi (sisa) dari foramen ovale pada waktu janin. Antara ventriculus cordis dexter dan sinister dibatasi oleh septum interventriculare yang terdiri dari pars membranacea dan pars muscularis. Antara atrium dan ventriculus cordis dexter maupun sinister dibatasi oleh ostium atrioventriculare dexter dan sinister. Padanya terdapat valvula (klep) yang memisahkan kedua ruangan, yaitu valvula trikuspidalis di sisi kanan dan valvula mitralis/bicuspidalis di sisi kiri. (Budianto, 2003).

Pada permukaan tubuh manusia, batas-batas jantung dapat diproyeksikan sebagai berikut:

Sinister (kiri): mulai dari SIC V 1 jari sebelah medial linea medioclavicularis ke cranial (atas) sampai SIC II sinister pada linea parasternalis.

Cranial (atas): SIC II sinister pada linea parasternalis ke kanan sampai tepi atas costa III dexter kurang lebih 2 cm dari linea sternalis.

Dexter (kanan): tepi cranial (atas) costa III dexter, kurang lebih 2 cm dari linea sternalis terus ke tepi caudal costa V dexter.

Caudal (bawah): dari costa V dexter sampai SIC V linea medioclavicularis. (Asisten Anatomi FK UNS 1999-2000, 2003)

Sedangkan proyeksi valve (katup) yang menghubungkan ruangan di dalam jantung adalah sebagai berikut:

Valva tricuspidalis: SIC V dan cartilago costalis V dexter

Valva bicuspidalis: SIC III dan cartilago costalis IV sinister

Valva semilunaris aorta: cartilago costalis III dexter, pada sternum sebelah linea mediana

Valva semilunaris pulmonalis: cartilago costalis III sinister, sternum sebelah kiri dari linea mediana. (Asisten Anatomi FK UNS 1999-2000, 2003)

Proyeksi-proyeksi tersebut memiliki peranan penting untuk melakukan pemeriksaan fisik jantung, terutama untuk pemeriksaan auskultasi.

2. HISTOLOGI JANTUNG

Dinding jantung terutama terdiri dari serat-serat otot jantung yang tersusun secara spiral dan saling berhubungan melalui diskus interkalatus. (Sherwood, 2001). Dinding jantung terdiri dari 3 lapisan berbeda, yaitu:

Endokardium, adalah lapisan tipis endothelium, suatu jaringan epitel unik yang melapisi bagian dalam seluruh sistem sirkulasi, di sebelah dalam.

Miokardium, yaitu lapisan tengah yang terdiri dari otot jantung, membentuk sebagian besar dinding jantung.

Perikardium adalah suatu membran tipis di bagian luar yang membungkus jantung. (Sherwood, 2001)

Miokardium terdiri dari berkas-berkas serat otot jantung yang saling menjalin dan tersusun melingkari jantung. Tiap-tiap sel otot jantung saling berhubungan untuk membentuk serat yang bercabang-cabang, dengan sel-sel yang berdekatan dihubungkan ujung ke ujung pada struktur khusus yang dikenal sebagai diskus interkalatus (intercalated disc). Di dalam sebuah diskus interkalatus terdapat dua jenis pertautan membran: desmosom dan gap junction. Desmosom, sejenis taut lekat yang secara mekanis menyatukan sel-sel, banyak dijumpai di jaringan yang sering mendapat tekanan mekanis, misalnya jantung. Pada interval tertentu di sepanjang diskus interkalatus, kedua membran yang berhadapan saling mendekat untuk membentuk gap junction, yaitu daerah-daerah dengan resistensi listrik yang rendah dan memungkinkan potensial aksi menyebar dari satu sel jantung ke sel di dekatnya. (Sherwood, 2001)

Tidak terdapat gap junction di antara sel-sel kontraktil atrium dan ventrikel dan kedua massa otot itu dipisahkan oleh annulus fibrosus, yaitu rangka fibrosa yang mengelilingi katup dan tidak dapat menghantarkan listrik. Namun, terdapat suatu sistem penghantar khusus untuk mempermudah koordinasi transmisi eksitasi listrik dari atrium ke ventrikel agar pemompaan atrium dari ventrikel berjalan sinkron. (Sherwood, 2001)

3. FISIOLOGI JANTUNG

AKTIVITAS LISTRIK JANTUNG

Kontraksi sel otot jantung untuk mendorong darah dicetuskan oleh potensial aksi yang menyebar melalui membrane sel-sel otot. Jantung berkontraksi atau berdenyut secara berirama akibat potensial aksi yang ditimbulkannya sendiri, suatu sifat yang dikenal sebagai otoritmisitas. (Sherwood, 2001)

Ada beberapa macam pembagian jenis otot jantung. Menurut Sherwood (2001), terdapat dua jenis khusus sel otot jantung yaitu: sel kontraktil yang menyusun 99% otot jantung dan sel otoritmik. Sel kontraktil adalah sel otot yang melakukan kerja mekanis yaitu memompa dan pada keadaan normal tidak menghasilk