Tugas Konstruksi Baja II Fix

of 39 /39
TUGAS KONSTRUKSI BAJA II Soal : Diketahui : - P1 = 0,5 t - P2 = 1 t - Mutu baja σ = 1600 kg/cm 2 Rencanakan : 1. Batang AC, CD, AF, CF, DG, FC & DF (penampang I/ Wide Flange) 2. Sambungan di titik A, C, D, F & G dengan baut 3. Sambungan yang sama bila digunakan las

Embed Size (px)

description

Tugas Baja menghitung sambungan plat serta jumlah baut

Transcript of Tugas Konstruksi Baja II Fix

TUGAS KONSTRUKSI BAJA II

Soal :

Diketahui :

P1 = 0,5 t

P2 = 1 t

Mutu baja = 1600 kg/cm2Rencanakan :

1. Batang AC, CD, AF, CF, DG, FC & DF (penampang I/ Wide Flange)2. Sambungan di titik A, C, D, F & G dengan baut

3. Sambungan yang sama bila digunakan las

DAFTAR

BAB I STATIKA MEKANIKA

1.1 Statika Mekanika

1.2 Konsep Dasar

1.3 Perhitungan Statika Mekanika

1.4 Tabel Perhitungan Statika Mekanika

BAB II PERHITUNGAN PENAMPANG

2.1 Batang Tarik

2.1.1 Perhitungan Batang Tarik

2.2 Batang Tekan

2.2.1 Perhitungan Batang Tekan

BAB III SAMBUNGAN BAUT DAN LASBAB IV GAMBARBAB I

STATIKA MEKANIKA1.1. Statika Mekanika

Mekanika adalah cabang ilmu fisika yang membahas keadaan benda yang diam atau bergerak di bawah pengaruh aksi gaya. Tak ada pengetahuan langsung lain yang berperan lebih besar dalam analisis teknik daripada mekanika. Sejarah awal ilmu ini merupakan permulaan teknik. Penelitian dan pengembangan modern di bidang getaran, stabilitas dan kekuatan struktur dan mesin, robot, disain roket dan pesawat angkasa, pengendalian otomatis, kemampuan mesin, alir-an fluida, mesin dan alat-alat listrik, dan perilaku molekul, atom, dan subatom sangat bergan-tung kepada prinsip-prinsip dasar mekanika. Pengertian yang mendalam tentang pengetahuan mekanika merupakan prasyarat pokok untuk bekerja dalam bidang-bidang tersebut di atas mau-pun bidang-bidang lainnya.Mekanika merupakan ilmu fisika yang tertua. Tulisan tertua yang berisi ilmu ini dibuat oleh Archimedes (287-212 sebelum Masehi) yang membahas prinsip pengungkit dan prinsip kemampuan mengapung. Kemajuan yang besar diawali oleh hukum kombinasi vektor gaya oleh Stevinus (1548-1620), yang juga merumuskan sebagian besar dari prinsip-prinsip statika. Penyelidikan pertama mengenai persoalan dinamika dilakukan oleh Galileo (1564-1642) dalam kaitan de-ngan percobaannya tentang batu yang jatuh. Perumusan seksama dari hukum-hukum gerak, se-perti halnya hukum gravitasi, dibuat oleh Newton (1642-1727), yang juga menciptakan gagasan perubahan kecil dalam analisis matematis. Sumbangan besar terhadap pengembangan mekanika juga diberikan oleh da Vinci, Varignon, Euler, D' Alembert, Lagrange, Laplace, dan yang lainnya.Prinsip-prinsip mekanika sangat tergantung pada matematika yang teliti. Jadi peranan mate-matika sangat penting dalam mekanika teknik, yang merupakan penerapan prinsip-prinsip mekanika pada penyelesaian persoalan praktis, Buku ini menitik beratkan pengembangan prinsip-prinsip tersebut dan penerapan-penerapannya. Prinsip dasar mekanika sebenarnya tidak banyak, te-tapi aplikasinya sangat luas dan metode yang digunakan dalam mekanika dipakai di bidang-bidang teknik lainnya.Pelajaran mekanika terdiri atas dua bagian: Statika, yang membahas kesetimbangan benda di bawah pengaruh gaya, dan dinamika, yang membahas gerakan benda.

1.2. Konsep Dasar

Konsep-konsep dan definisi-definisi yang tepat merupakan landasan untuk mempelajari mekanika, dan harus dimengerti terlebih dahulu.Ruang adalah daerah geometri yang ditempati oleh benda yang posisinya digambarkan oleh pengukuran linear dan anguler relatif terhadap sistem koordinat. Untuk persoalan tiga dimensi, niang membutuhkan tiga koordinat bebas, sedangkan untuk persoalan dua dimensi diperlukan hanya dua koordinat saja.Waktu adalah ukuran peristiwa yang berurutan dan merupakan besaran dasar dalam dinamika. Waktu tidak dapat dimasukkan langsung dalam analisis persoalan statika. Massa adalah ukuran kelembaman benda, yang merupakan penghambat terhadap perubahan kecepatan. Massa merupakan tjal penting untuk persoalan statika karena massa juga merupakan sifat setiap benda yang mengalami gaya tarik-menarik dengan benda lain.Gaya adalah aksi suatu benda terhadap benda lain. Suatu gaya cenderung menggerakkan se-buah benda menurut arah kerjanya. Aksi sebuah gaya dicirikan oleh besarannya, arah kerjanya, dan titik kerjanya. Gaya adalah besaran vector

Partikel. Sebuah benda yang dimensmya dapat diabaikan disebut partikel. Dalam pengertian matematis, sebuah partikel adalah benda yang dimensinya mendekati nol sehingga dapat dianali-sis sebagai massa titik. Seringkali sebuah partikel dipilih sebagai elemen diferensial dari sebuah benda. Selain itu, apabila dimensi sebuah benda tidak sesuai dengan gambaran posisinya atau aksi gaya yang dikenakan padanya, benda tersebut dapat diperlakukan sebagai partikel.Benda tegar. Sebuah benda dianggap tegar jika gerakan relatif antar bagian-bagiannya dapat diabaikan langsung. Sebagai contoh, perhitungan tarikan (tension) pada kabel yang menyangga tiang penderek mobil dalam keadaan mengangkut beban pada dasarnya tak terpengaruh oleh re-gangan (deformasi) dalam yang kecil pada anggota-anggota struktural tiang tersebut. Untuk tuju-an ini, dari penentuan gaya luar yang bekerja pada tiang tersebut kita dapat memperlakukannya sebagai benda tegar. Statika terutama membahas perhitungan.gaya luar yang bekerja pada benda tegar yang berada dalam kondisi kesetimbangan. Untuk menentukan tegangan dan regangan dalam, karakteristik deformasi dari material (bahan tiang tersebut harus dianalisis. Analisis jenis ini termasuk dalam pelajaran mekanika benda-benda yang dapat berubah bentuk, yang dipelajari setelah statika.

Statika atau Mekanika Teknik atau juga dikenal sebagai Mekanika Rekayasa merupakan bidang ilmu utama (dasarkeahlian) yang dipelajari di ilmu teknik sipil.Pokok utama atau materi dari Statika adalah mempelajari perilaku struktur terhadap beban yang bekerja padanya.Perilaku struktur tersebut umumnya mencakup keseimbangan gaya, uraian gaya, gaya reaksi dan gaya internal yang ada pada struktur.Dalam mempelajari perilaku struktur pada mata kuliah Statika, maka hal-hal penting yang selalu diperhatikan adalah:

1.Stabilitas struktur (tidak bergerak, tidak berpindah tempat dan tidak berubah bentuk).2.Keseimbangan Gaya (gaya luar atau beban yang bekerja pada struktur harus diimbangi oleh reaksi struktur terhadap beban tersebut)3.Kompatibilitas antara gaya-gaya yang bekerja pada struktur dengan jenis tumpuannya dan bentuk strukturnya.

Gaya Luar terdiri dari Muatan(Gaya Aksi) dan Reaksi Tumpuan(Gaya Reaksi) yang menciptakan kestabilan atau keseimbangan struktur. Muatan yang membebani suatu struktur akan dirambatkan oleh kontruksi ke dalam tanah melalui pondasi. Gaya-gaya dari tanah yang memberikan perlawanan terhadap gaya rambat tersebut dinamakan Reaksi Tumpuan.Muatan adalah beban yang bekerja padasuatu struktur dapat berupa beban hidup manusia, beban kendaraan, beban angin, beban gempa, beban hidrolis air, beban aktif tanah dll.Muatan yang bekerja pada struktur secara umum dibagi menjadi dua yaitu muatan tetap dan muatan sementara.Muatan tetap bekerja sepanjang umur struktur, beban ini juga dikenal sebagai beban mati atau berat mati struktur. Sebagai contoh berat mati struktur dari beton 2400 kN/m3, berat mati struktur baja 7200 kN/m3, berat mati struktur kayu 960 kN/m3, berat tegel di atas lantai 75 kN/m2).Muatan sementara bekerja tidak tetap pada strukur, muatan ini juga dikenal sebagai muatan tidak tetap (muatan hidup) seperti muatan gempa, angin, kendaraan, orang.Muatan-muatan selalu mempunyai besaran, arah, dan garis kerja, misalnya:

Bebanangin bekerja tegak lurus bidang yang menentangnya, berupa beban merata arahnya umum mendatar(misal40 N/m2) Berat kendaraan, merupakan muatan titik yang mempunyai arah gaya tegak lurus bidang singgung roda, arah gaya akibat beban kendaraan adalah vertikal kebawah(misal10kN) Gaya tekan air(gayatekan tanah), bekerja tegak lurus dinding yang terletak didalam air(didalamtanah), besarnya gaya tekan air (tanah) dihitung secara hidrostatis berbentuk beban segitiga, makin dalam makin besar gayanya.

Beban manusia bekerja tegak lurus bidang injaknya dan berupa beban titik atau beban merata dengan arah vertikal kebawah (misal100 kNatau100 kN/m2).

1.3 Perhitungan Statika Mekanika Perhitungan gaya-gaya batang yang bekerja pada struktur rangka batang

Perhitungan Beban

PA = P1 + 0,5 . q . l = 0,5 + 0,5 . 2 . 2,5 = 3 ton

PB = P2 + 0,5 . q . l + 0,5 . q . l = 1 + 0,5 . 2 . 2,5 + 0,5 . 2 . 2,5 = 6 ton

PC = P2 + 0,5 . q . l + 0,5 . q . l = 1 + 0,5 . 2 . 2,5 + 0,5 . 2 . 2,5 = 6 ton

PD = P2 + 0,5 . q . l + 0,5 . q . l = 1 + 0,5 . 2 . 2,5 + 0,5 . 2 . 2,5 = 6 ton

PE = P1 + 0,5 . q . l = 0,5 + 0,5 . 2 . 2,5 = 3 ton

Penyebaran Beban

Menghitung Reaksi PerletakanMA = 0

-RB.10 + PA.0 + PC.2,5 + PD.5 + PE.7,5 + PB.10 = 0

-RB.10 + 3.0 + 6.2,5 + 6.5 + 6.7,5 + 3.10 = 0

-10RB + 0 + 15 + 30 + 45 + 30 = 0

-10RB = -120

RB = 12 ton

MB = 0

RA = 12 ton

Kontrol = PA + PC + PD + PE + PB = RA + RB

= 3 + 6 + 6 + 6 + 3 = 12 + 12

24 = 24 (OKE!)

Menghitung Gaya-gaya Batang

1. Keseimbangan Titik Simpul A

V = 0

RA - PA - SAF. Sin 450 = 0

12 3 0,707 SAF = 0

0,707 SAF = 9

SAF = 12,729 ton

H = 0

SAC - SAF. Cos 450 = 0SAC = 12,729 . 0,707

SAC = 8,999 ton

2. Keseimbangan Titik Simpul C

V = 0

SCF - PC = 0

SCF = PCSCF = 6 ton

H = 0

SCD - SAC = 0

SCD = 8,999 ton

3. Keseimbangan Titik Simpul F

V = 0

SAF.sin 450 - SDF.sin 450 - SCF = 0

8,999 - SDF.sin 450 6 = 0

0,707SDF = 2,999SDF = 4,242 ton

H = 0

SAF.cos 450 + SDF.cos 450 - SFG = 0

8,999 + 2,999 - SFG = 0

SFG = 8,999 + 2,999

SFG = 11,998 ton

4. Keseimbangan Titik Simpul G

V = 0

SDG = 0

H = 0

SFG - SGH = 0

11,998 = SGHSGH = 11,998 ton

5. Keseimbangan Titik Simpul D

V = 0

SDF.sin 450 + SDG + SDH. Sin 450 - PD = 0

2,999 + 0 + 0,707 SDH 6 = 0

0,707 SDH = 3,001

SDH = 4,242 ton

H = 0

SDE + SDH.cos 450 - SDF.cos 450 - SCD = 0

SDE + 2,999 2,999 8,999 = 0

SDE = 8,999 ton

6. Keseimbangan Titik Simpul E

V = 0

SEH - PE = 0

SEH = PE

SEH = 6 ton

H = 0

SBE - SDE = 0

SBE = SDESBE = 8,999 ton

1.4 Tabel Hasil Perhitungan Statika MekanikaTitik SimpulBatangGaya BatangGaya Batang (Max/Min)Panjang Batang (m)

AAF12,729 (+)12,729 (+)3,53

AC8,999 (-)4,242 (-)2,5

CCF6 (-)11,998 (+)2,5

CD8,999 (-)6 (-)2,5

CA8,999 (-)

FFD4,242 (-)

FG11,998 (+)

FC6 (-)

FA12,729 (+)

GGH11,998 (+)

GD0

GF11,998 (+)

DDH4,242 (-)

DG0

DF4,242 (-)

DE8,999 (-)

DC8,999 (-)

EEH6 (-)

EB8,999 (-)

ED8,999 (-)

BAB II

PERHITUGAN PENAMPANG

2.1 Batang TarikBesar gaya tarik maksimum pada konstruksi statika mekanika adalah 6 ton. Terjadi pada batang AF dengan L = 2,5 m. Mutu baja = 1600 kg/cm2.2.1.1 Perhitungan Batang Tarik Penampang AF :

Tarik : 0,75.

: 0,75. 1600 = 1200 kg/cm2A bruto : = 10,607 cm2

A netto : 0,85 x A bruto = 0,85 x 10,607 = 9,016 cm2

i min : = = 1,471 cm

Lihat tabel profil I digunakan I 4 WF 4 x 4 dgn A netto = 25,2 cm2 ; I = 2,51 cm

Jadi, Tarik = = = 505,119 kg/cm2 < = 1200 kg/cm2 Penampang FD :

Tarik : 0,75.

: 0,75. 1600 = 1200 kg/cm2A bruto : = 3,535 cm2

A netto : 0,85 x A bruto = 0,85 x 3,535 = 3,005 cm2

i min : = = 1,042 cm

Lihat tabel profil I digunakan I 4 WF 4 x 4 dgn A netto = 25,2 cm2 ; I = 2,51 cm

Jadi, Tarik = = = 168,333 kg/cm2 < = 1200 kg/cm2 Penampang FG :

Tarik : 0,75.

: 0,75. 1600 = 1200 kg/cm2A bruto : = 9,998 cm2

A netto : 0,85 x A bruto = 0,85 x 9,998 = 8,498 cm2

i min : = = 1,042 cm

Lihat tabel profil I digunakan I 4 WF 4 x 4 dgn A netto = 25,2 cm2 ; I = 2,51 cm

Jadi, Tarik = = = 476,111 kg/cm2 < = 1200 kg/cm2 Penampang CF : Tarik : 0,75.

: 0,75. 1600 = 1200 kg/cm2A bruto : = 5 cm2

A netto : 0,85 x A bruto = 0,85 x 5 = 4,25 cm2

i min : = = 1,042 cm

Lihat tabel profil I digunakan I 4 WF 4 x 4 dgn A netto = 25,2 cm2 ; I = 2,51 cm

Jadi, Tarik = = = 238,095 kg/cm2 < = 1200 kg/cm22.2 Batang Tekan

Besar gaya tekan maksimum pada konstruksi statika mekanika adalah 12,729 ton. Terjadi pada batang AF dengan L = 3,53 m. Mutu baja = 1600 kg/cm2.2.2.1 Perhitungan Batang Tekan

Penampang AF :Dengan meggunakan rumus Euler

I min = = -,484 n P Lk2

Untuk baja B37 ditaksir = 1600 kg/cm2, ditaksir dengan

I min = 1,5 P Lk2

Jika panjang Lk = L, karena K=1 (sendi), maka :

I min = 1,5 P Lk2

=1,5 . 12,729 . 3,532

= 237,922 cm4Berdasarkan perhitungan I min, dapat dicari di table baja WF, dengan I min = Iy atau sedikit lebih besar dari 237,922 cm4 , terdapat Iy =279,7 cm4 , dimensi WF 8 x 51/4Memiliki : Ix = 2,348 cm4Ix = 8,53

Iy = 279,7 cm4Iy = 2,95A = 32,3 cm2

Diperiksa denga daya dukung :

= = = 114,6 (berlaku Euler keadaan Elastis) = 2,55 (Tabel PBBI)

= ( N = =

= 20266,67 kg > 12729 kg (OK) Penampang FD :Dengan meggunakan rumus Euler

I min = = -,484 n P Lk2

Untuk baja B37 ditaksir = 1600 kg/cm2, ditaksir dengan

I min = 1,5 P Lk2

Jika panjang Lk = L, karena K=1 (sendi), maka :

I min = 1,5 P Lk2

=1,5 . 4,242 . 2,52

= 39,769 cm4Berdasarkan perhitungan I min, dapat dicari di table baja WF, dengan I min = Iy atau sedikit lebih besar dari 39,769 cm4 , terdapat Iy = 156,5 cm4 , dimensi WF 4 x 4Memiliki : Ix = 470,3 cm4Ix = 4,37

Iy = 156,5 cm4Iy = 2,51A = 25,2 cm2

Diperiksa dengan daya dukung :

= = = 128,86 (berlaku Euler keadaan Elastis)

= 3,21 (Tabel PBBI)

= ( N = =

= 12560,75 kg > 4242 kg (OK) Penampang FG :Dengan meggunakan rumus Euler

I min = = -,484 n P Lk2

Untuk baja B37 ditaksir = 1600 kg/cm2, ditaksir dengan

I min = 1,5 P Lk2

Jika panjang Lk = L, karena K=1 (sendi), maka :

I min = 1,5 P Lk2

=1,5 . 11,998 . 2,52

= 112,481 cm4Berdasarkan perhitungan I min, dapat dicari di table baja WF, dengan I min = Iy atau sedikit lebih besar dari 112,481 cm4 , terdapat Iy =156,5 cm4 , dimensi WF 4 x 4Memiliki : Ix = 470,3 cm4Ix = 4,37

Iy = 156,5 cm4Iy = 2,51A = 25,2 cm2

Diperiksa denga daya dukung :

= = = 97,276 (berlaku Euler keadaan Elastis)

= 1,96 (Tabel PBBI)

= ( N = =

= 12560,75 kg > 11998 kg (OK) Penampang CF:Dengan meggunakan rumus Euler

I min = = -,484 n P Lk2

Untuk baja B37 ditaksir = 1600 kg/cm2, ditaksir dengan

I min = 1,5 P Lk2

Jika panjang Lk = L, karena K=1 (sendi), maka :

I min = 1,5 P Lk2

=1,5 . 6 . 2,52

= 56,25 cm4Berdasarkan perhitungan I min, dapat dicari di table baja WF, dengan I min = Iy atau sedikit lebih besar dari 56,25 cm4 , terdapat Iy = 156,5 cm4 , dimensi WF 4 x 4Memiliki : Ix = 470,3 cm4Ix = 4,37Iy = 156,5 cm4Iy = 2,51A = 25,2 cm2

Diperiksa denga daya dukung :

= = = 98,425 (berlaku Euler keadaan Elastis)

= 1,99 (Tabel PBBI)

= ( N = =

= 12560,75 kg > 6000 kg (OK)BAB III

SAMBUNGAN BAUT 3.1 Perencanaan Sambungan

Titik A

Diasumsikan plat dengan tebal 12 mm dan lebar 150 mm. Harus di sambung dan direncanakan menerima beban tarik sebesar 8,999 ton. Rencanakan sambungan dengan baut biasa, diameter baut 19 mm. Bahan plat dan baut BJ 37 dengan dimensi WF 4x4a. Menentukan tebal plat penyambung :

Ambil tebal = 0,7 x t (syarat umum)

= 0,7 x 12

= 8,4 mm ~ 8 mm

Bila 2 buah plat 2 x 8 = 16 mm > 12 mm.OK

b. Kekuatan geser baut :

baut = 0.6 x

= 0.6 x 1600

= 960 Kg/cm2

Potongan tunggal

Ng = 1 x d2 x baut

= 1 x 1,92 x 960

= 2721,5 Kg

Diambil jumlah baut n = = = 3,3 baut

c. Kekuatan tumpu baut :

Syarat

1,5 d S1 2d

tu = 1,2 x = 1,2 x 1600 = 1920 Kg/cm2

Ntu = d x t x tu = 1,9 x 1.2 x 1920 = 4377 Kg/cm2 Diambil jumlah baut = n = = = 2,05 baut

Sehingga diambil yang paling menentukan yaitu jumlah baut = 3,3 baut ~ 4 bautd. Cara penyusunan baut

1,5 d S1 3d atau 6t

1,5x1,9 S1 3x1,9 atau 6x1,2

2,85 S1 5,7 atau 7,2

Ambil S1 = 4cm = 40mm

2,5 d g 7d atau 14t

2,5x1,9 g 7x1,9 atau 14x1,2

4,75 g 13,3 atau 16,8

Ambil g = 7cm = 70mm

S2 7d - atau 14t - S2 7x1,9 - atau 14x1,2 - S2 9,8cm atau 13,3cm

Ambil S2 = 9cm = 90mm

e. Kontrol Penampang

Hitung A netto :

A netto= b x t n x A lubang

= 15 x 1,2 4 x 1,9 x 1,2

= 18 9,12

= 8,88

T= A netto x t

t = 0,75 x

= 8,88 x 1200

= 0,75 x 1600

= 10,656 > 8,999

= 1200 Kg/cm2 Karena besar beban tarik yang dapat dipikul = T > beban tarik = 8,999 ton, maka sambugan baut dengan susunan seperti diatas adalah AMAN!!! Titik CDiasumsikan plat dengan tebal 12 mm dan lebar 150 mm. Harus di sambung dan direncanakan menerima beban tarik sebesar 8,999 ton. Rencanakan sambungan dengan baut biasa, diameter baut 19 mm. Bahan plat dan baut BJ 37 dengan dimensi WF 4x4a. Menentukan tebal plat penyambung :

Ambil tebal = 0,7 x t (syarat umum)

= 0,7 x 12

= 8,4 mm ~ 8 mm

Bila 2 buah plat 2 x 8 = 16 mm > 12 mm.OK

b. Kekuatan geser baut :

baut = 0.6 x

= 0.6 x 1600

= 960 Kg/cm2

Potongan tunggal

Ng = 1 x d2 x baut

= 1 x 1,92 x 960

= 2721,5 Kg

Diambil jumlah baut n = = = 3,3 baut

c. Kekuatan tumpu baut :

Syarat

1,5 d S1 2d

tu = 1,2 x = 1,2 x 1600 = 1920 Kg/cm2

Ntu = d x t x tu = 1,9 x 1.2 x 1920 = 4377 Kg/cm2 Diambil jumlah baut = n = = = 2,05 baut

Sehingga diambil yang paling menentukan yaitu jumlah baut = 3,3 baut ~ 4 bautd. Cara penyusunan baut

1,5 d S1 3d atau 6t

1,5x1,9 S1 3x1,9 atau 6x1,2

2,85 S1 5,7 atau 7,2

Ambil S1 = 4cm = 40mm

2,5 d g 7d atau 14t

2,5x1,9 g 7x1,9 atau 14x1,2

4,75 g 13,3 atau 16,8

Ambil g = 7cm = 70mm

S2 7d - atau 14t - S2 7x1,9 - atau 14x1,2 - S2 9,8cm atau 13,3cm

Ambil S2 = 9cm = 90mm

e. Kontrol Penampang

Hitung A netto :

A netto= b x t n x A lubang

= 15 x 1,2 4 x 1,9 x 1,2

= 18 9,12

= 8,88

T= A netto x t

t = 0,75 x

= 8,88 x 1200

= 0,75 x 1600

= 10,656 > 8,999

= 1200 Kg/cm2 Karena besar beban tarik yang dapat dipikul = T > beban tarik = 8,999 ton, maka sambugan baut dengan susunan seperti diatas adalah AMAN!!! Titik FDiasumsikan plat dengan tebal 12 mm dan lebar 150 mm. Harus di sambung dan direncanakan menerima beban tarik sebesar 6 ton. Rencanakan sambungan dengan baut biasa, diameter baut 19 mm. Bahan plat dan baut BJ 37 dengan dimensi WF 4x4a. Menentukan tebal plat penyambung :

Ambil tebal = 0,7 x t (syarat umum)

= 0,7 x 12

= 8,4 mm ~ 8 mm

Bila 2 buah plat 2 x 8 = 16 mm > 12 mm.OK

b. Kekuatan geser baut :

baut = 0.6 x

= 0.6 x 1600

= 960 Kg/cm2Potongan tunggal

Ng = 1 x d2 x baut

= 1 x 1,92 x 960

= 2721,5 Kg

Diambil jumlah baut n = = = 2,2 baut

c. Kekuatan tumpu baut :

Syarat

1,5 d S1 2d

tu = 1,2 x = 1,2 x 1600 = 1920 Kg/cm2

Ntu = d x t x tu = 1,9 x 1.2 x 1920 = 4377 Kg/cm2 Diambil jumlah baut = n = = = 1,4 baut

Sehingga diambil yang paling menentukan yaitu jumlah baut = 2,2 baut ~ 3 bautd. Cara penyusunan baut

1,5 d S1 3d atau 6t

1,5x2,5 S1 3x2,5 atau 6x1,3

3,75 S1 7,5 atau 7,8

Ambil S1 = 7,5 cm = 75mm

2,5 d S2 7d atau 14t

2,5x 2,5 S2 7x2,5 atau 14x1,3

6,25 S2 17,5 atau 18,2

Ambil = 7,5cm = 70mm

e. Kontrol Penampang

Hitung A netto :

A netto= b x t n x A lubang

= 15 x 1,3 3 x 2,5 x 1,3

= 19,5 9,75

= 9,75

T= A netto x t

t = 0,75 x

= 9,75 x 1200

= 0,75 x 1600

= 11,7 > 9,75

= 1200 Kg/cm2 Karena besar beban tarik yang dapat dipikul = T > beban tarik = 6 ton, maka sambugan baut dengan susunan seperti diatas adalah AMAN!!! Titik DDiasumsikan plat dengan tebal 12 mm dan lebar 150 mm. Harus di sambung dan direncanakan menerima beban tarik sebesar 8,999 ton. Rencanakan sambungan dengan baut biasa, diameter baut 19 mm. Bahan plat dan baut BJ 37 dengan dimensi WF 4x4a. Menentukan tebal plat penyambung :

Ambil tebal = 0,7 x t (syarat umum)

= 0,7 x 12

= 8,4 mm ~ 8 mm

Bila 2 buah plat 2 x 8 = 16 mm > 12 mm.OKb. Kekuatan geser baut :

baut = 0.6 x

= 0.6 x 1600

= 960 Kg/cm2Potongan tunggal

Ng = 1 x d2 x baut

= 1 x 1,92 x 960

= 2721,5 Kg

Diambil jumlah baut n = = = 3,3 baut

c. Kekuatan tumpu baut :

Syarat

1,5 d S1 2d

tu = 1,2 x = 1,2 x 1600 = 1920 Kg/cm2

Ntu = d x t x tu = 1,9 x 1.2 x 1920 = 4377 Kg/cm2 Diambil jumlah baut = n = = = 2,05 baut

Sehingga diambil yang paling menentukan yaitu jumlah baut = 3,3 baut ~ 4 bautd. Cara penyusunan baut

1,5 d S1 3d atau 6t

1,5x1,9 S1 3x1,9 atau 6x1,2

2,85 S1 5,7 atau 7,2

Ambil S1 = 4cm = 40mm

2,5 d g 7d atau 14t

2,5x1,9 g 7x1,9 atau 14x1,2

4,75 g 13,3 atau 16,8

Ambil g = 7cm = 70mm

S2 7d - atau 14t - S2 7x1,9 - atau 14x1,2 - S2 9,8cm atau 13,3cm

Ambil S2 = 9cm = 90mm

e. Kontrol Penampang

Hitung A netto :

A netto= b x t n x A lubang

= 15 x 1,2 4 x 1,9 x 1,2

= 18 9,12

= 8,88

T= A netto x t

t = 0,75 x

= 8,88 x 1200

= 0,75 x 1600

= 10,656 > 8,999

= 1200 Kg/cm2 Karena besar beban tarik yang dapat dipikul = T > beban tarik = 8,999 ton, maka sambugan baut dengan susunan seperti diatas adalah AMAN!!! Titik EDiasumsikan plat dengan tebal 12 mm dan lebar 150 mm. Harus di sambung dan direncanakan menerima beban tarik sebesar 8,999 ton. Rencanakan sambungan dengan baut biasa, diameter baut 19 mm. Bahan plat dan baut BJ 37 dengan dimensi WF 4x4a. Menentukan tebal plat penyambung :

Ambil tebal = 0,7 x t (syarat umum)

= 0,7 x 12

= 8,4 mm ~ 8 mm

Bila 2 buah plat 2 x 8 = 16 mm > 12 mm.OK

b. Kekuatan geser baut :

baut = 0.6 x

= 0.6 x 1600

= 960 Kg/cm2

Potongan tunggal

Ng = 1 x d2 x baut

= 1 x 1,92 x 960

= 2721,5 Kg

Diambil jumlah baut n = = = 3,3 baut

c. Kekuatan tumpu baut :

Syarat

1,5 d S1 2d

tu = 1,2 x = 1,2 x 1600 = 1920 Kg/cm2

Ntu = d x t x tu = 1,9 x 1.2 x 1920 = 4377 Kg/cm2 Diambil jumlah baut = n = = = 2,05 baut

Sehingga diambil yang paling menentukan yaitu jumlah baut = 3,3 baut ~ 4 bautd. Cara penyusunan baut

1,5 d S1 3d atau 6t

1,5x1,9 S1 3x1,9 atau 6x1,2

2,85 S1 5,7 atau 7,2

Ambil S1 = 4cm = 40mm

2,5 d g 7d atau 14t

2,5x1,9 g 7x1,9 atau 14x1,2

4,75 g 13,3 atau 16,8

Ambil g = 7cm = 70mm

S2 7d - atau 14t - S2 7x1,9 - atau 14x1,2 - S2 9,8cm atau 13,3cm

Ambil S2 = 9cm = 90mm

e. Kontrol Penampang

Hitung A netto :

A netto= b x t n x A lubang

= 15 x 1,2 4 x 1,9 x 1,2

= 18 9,12

= 8,88

T= A netto x t

t = 0,75 x

= 8,88 x 1200

= 0,75 x 1600

= 10,656 > 8,999

= 1200 Kg/cm2 Karena besar beban tarik yang dapat dipikul = T > beban tarik = 8,999 ton, maka sambugan baut dengan susunan seperti diatas adalah AMAN!!!BAB IVGAMBAR

4.1.Dimensi Profil

Untuk batang tarik AF dengan profil IWF dimensi 4 x 4 maka dimensinya adalah sebagai berikut menurut tabel profil baja :

Karena batang tarik FD, FG, CF juga memiliki dimensi yang sama, maka gambar dimensinya pun sama seperti batang AF.

Untuk batang tekan AF dengan profil IWF dimensi 8 x 5 1/4 maka dimensinya adalah sebagai berikut menurut tabel profil baja :

Batang tekan FD, FG, CF memiliki dimensi yg berbeda yaitu IWF 4x4. Maka, gambarnya