Telaah Buku Obat

of 39 /39
KELOMPOK 1 1. ANANTA MIA 2. ARUNG ALMAULANA 3. GUSTI RESTI FAUSAN 4. HAMIZAH 5. NADIA RUKAMANA 6. NONI DEWI ANGGRAINI 7. MULIANA LESTARI 8. ROBI SUPENO CHANG 9. YUSMAHARANIS

Embed Size (px)

description

vvbrf

Transcript of Telaah Buku Obat

KELOMPOK 1

KELOMPOK 1 ANANTA MIAARUNG ALMAULANAGUSTI RESTI FAUSANHAMIZAHNADIA RUKAMANANONI DEWI ANGGRAINIMULIANA LESTARIROBI SUPENO CHANGYUSMAHARANISOBAT OBAT YANG BEKERJA PADA TAUT NEUROMUSCULARReseptor Asetilkolin Nikotinik Struktur RESEPTOR NIKOTINIK4 subunit Reseptor Nikotinik Pada end plate otot dewasa yang dipersarafi Kelima subunit tersusun mengelilingi sebuah saluran seperti kelopak bunga liliBLOKER NEUROMUSCULARAda 2 penggolongan :Berdasarkan kerja obat dan dikelompokkan menjadi senyawa kerja-lama, sedang, dan singkat.Berdasarkan pada sifat kimia senyawa, yang meliputi alkaloid-alkaloid alam dan senyawa sejenis, steroid-steroid amonio, dan senyawa benzilisokuinolin.senyawaGolongan kimiaSifat2 farmakoWaktu onset ( menit )Durasi klinis ( menit )Cara eliminasisuksinilkolinEster dikolinDurasi singkat : mendepolarisasi1-1,5 5-8Hidrolisis oleh kolinestrase plasma d-tubokurarinAlkaloid alamDurasi lama : kompetitif4-680-120Eliminasi diginjal : bersihan hatiAtrakurium benzilisokuinolinDurasi sedang : kompetitif2-430-60Degradasi hofmann , hidrolisis oleh esterase plasma, eliminasi ginjalDoksakurium benzilisokuinolinDurasi lama : kompetitif4-690-120Eliminasi ginjalMivakurium benzilisokuinolinDurasi singkat : kompetitif2-412-18Hidrolisis oleh kolinestrase plasmapankuroniumSteroid aminoDurasi lama : kompetitif4-6120-180Eliminasi diginjal

pipekuroniumSteroid amino

Durasi lama : kompetitif

2-480-100Eliminasi diginjal : metabolisme dan bersihan dihati

rapakuroniumSteroid amino

Durasi sedang : kompetitif1-215-30Metabolisme dan bersihan hati

rokuroniumSteroid amino

Durasi sedang : kompetitif

1-230-60metabolisme di hativekuroniumSteroid amino

Durasi sedang : kompetitif

2-460-90Metabolisme dan bersihan di hati, eliminasi ginjalSifat-sifat farmakologisPertama kali yang menguraikan efek paralisis lokal yang disebabkan oleh kurare pd Otot Rangka (Claude Bernard, 1850-an)Kemudian dengan teknik-teknik modern meliputi : mikroskopi elektron dan fluoresensi, aplikasi obat secara mikrointoforesis, analisis patch-clamp dari saluran tunggal, dan perekaman intraselAntagonis kompetitif + reseptor asetilkolin nikotinik memblock ACh secara kompetitifObat diberikan langsung end plate (otot tunggal) sel otot tidak sensitif terhadap impuls saraf motorik & ACh Tapi daerah end plate & sisa membran serabut otot tetap memiliki sensitivitas normal depolarisasi K+ & stimulasi elektrik langsung potensial aksi saraf + perkembangan potensial end plate miniatur (miniatur end plate potential "MEPP") --> pelepasan asetilkolin --> potensial end plate pascataut, potensial aksi otot, & kontraksipelepasan ACh/ agonis lain --> pembukaan & penutupan kanal ion (semua atau tidak sama sekali) --> square-wave pulse + konduktans 20-30 pS & durasi eksponsial 1 milidetikdurasi pembukaan lebih banyak dari besarnya konduktans yang terbuka --> tergantung sifat agonisnyapeningkatan konsentrasi antagonis kompetitif tubokurarin --> pengurangan amplitudo potensial end plate pascataut secara progresif --> 70% dari nilai awalnya --> memulai propagasi potensial aksi otot --> memberikan faktor keamanansenyawa antagonis kompetitif --> mengurangi frekuensi pembukaan saluran mempengaruhi konduktans & durasi pembukaan saluran tunggalpada konsentrasi > tinggi --> kurare & antagonis kompetitif --> langsung mebmlock saluran tidak kompetitif dgn agonis & bergantung pada potensial membranwaktu hancur MEPP = durasi pembukaan saluran (1-2 milidetik)molekul ACh yg dilepaskan --> sinaps memiliki kesempatan singkat mengaktivkan & tidak berikatan kembali secara berturut'" --> banyak reseptor --> sebelum terhidrolisis ACh yg dilepaskan tidak terikat dengan sinaps --> berkurang > cepat dibandingkan hancurnya potensial end plate

obat-obat anti-ChE, EPP diperpanang 25-30 milodetik --> pengikatan kembali transmiter reseptor" yg bersebelahan sebelum difusi dari sinaps --> anti-ChE & tubokurarin bekrja berlawanan karena waktu penahanan ACh dalam sinaps --> transmiter mengikat reseptor & menggantikan tubokurarinpengikatan serentak antara dua molekul agonis pada subnuit reseptor ( dan &) --> aktivasi ( menunjukan kerja sama yang positif --> terjadi pada rentang yg sempitantagonis kompetitif/ molekul -toksin ular --> berikatan pada setiap reseptor agonis --> reseptor tidak berfungsiblocker pendepolarisasi ( suksinilkolin dan dekametonium) bekerja dgn mekanisme berbeda.kerja awal: mendepolarisasi membran melalui pembukaan saluran dengan cara = ACh --> tapi durasi nya bertahan lama pada neuromuskular karena resistensinya terhadap asetilkolineterase --> depolarisasi lama --> eksitatori berulang dgn durasi singkat --> fasikulasi otot sementara fase awal diikuti --> block transmisi neuromuskular & lumpuh layuend plate yg didepolarisai oleh blocker pendepolarisasi dari -80 - -55 mV --> resisten terhadap depolarisasi lanjut oleh ACh.dampak blocker pendepolarisasi pada manusia --> rangkaian eksitatori berulang (fasikulasi) & block transmiter paralisis neuromuskular.dipengaruhi oleh faktor-faktor tertentu: senyawa anestik yg digunakan scara bersama jenis otot kecepatan pemberian obat

Perbandingan blocker kompetitif (d-tubokurarin) dan pendepolarisasi (dekametonium)efekd-tubokurarindekametoniumd-tubokurarin klorida yg di erikan sebelumnyaaditifantagonistik dekametonium yg diberikan sebelumnyatidak ada efek/ antagonistikbeberapa takifilaksis; mungkin aditifpada block obat-obat anti-ChEpembalikan blocktidak antagonismepada motor end-plate nilai ambang trhadap ACh; tidak depolarisaidepolarisasi parsial lamaeksitatori awal pada otot luriktidak adafasikulasi sementaraciri respons otot terhadap stimulasi tetanik langsung selama block parsialkontraksi terus menerus (kurang baik)kontraksi terus menerus (baik)blocker pendepolarisasi awalnya menimbulkan --> fasikulasi dan potensial yang khas terhadap kedutan maksima --> onset block neuromuskular yang cepat diperkuat oleh anti-ChEnamun: setelah blokade dimulai --> muncul respons yg tidak dapat tertahan dengan baik --> terhadap stimulasi tetanik saraf motor, intensifikasi block oleh tubokurarin, & pembalikan oleh anti-ChEkerja rangkap blocker pendepolarisasi juga tampak pada potensial membran intrasel: jika agonis diberikan kontinyu --> depolarisasi diikuti dgn repolarisasi bertahap --> fase kedua repolarisasi mirip desensitisasi reseptorrespon klinis & pemantauan blokade neuromuskular fase I dan II melalui pemberian infus suksinilkolinresponsfase Ifase IIpotensia; membran end-plateterdepolarisasi sampai -55 mVrepolarisai ke arah -80 mVonsetsegeratransisi perlahan ketergantungan pada dosislebih rendah biasanya lebih tinggi atau terjadi setelah infuds jangka panjangpemulihancepatlebih lamatrain of four dan stimulasi tetanik tidak berangsur menghilangberangsur menghilangpenghambatan asetilkolineterasebertambahmembaik atau antagonisrespons ototfasikulasi otot --> lumpuh layulumpuh layubanyak obat dan toksin memblock tranmisi neuromuskular seperti mengganggu sintesis/ pelepasan ACh.toksin botulinum --> secara lokal ke otot rongga mata --> pengendalian kejang otot & untuk memudahkan relaksasi otot wajah --> disuntikan ke sfingter esofagus bawah --> mengobati akalasia kecuali dantrolen --> meblock pelepasan Ca2+ daro RE sarkoplasma --> pengobatan hipertemia malignan

urutan dan ciri-ciri paralisisdosis bloker kompetitif yg diberiakan sesuai disuntikam secara intravena --> kelemahan motorik --> lumpuh layuotot" yang kecil bergerak cepat seperti otot mata, rahang, dan laring -->mengendur sebelum otot tungkai dan badanakhirnya otot" interkostal & diafragma --> lumpuh & pernapasan berhentipemberian dosis tunggal suksinilkolin intravena 10-30 mg --> fasikulasi otot singkat terutama di dada & abdomen --> relaksasi selama 1-2 menit -->menhilang waktu 5 menit dan efeknya terjadi apnea singkat --> relaksasi otot dalam waktu > lam dengan pemberian infus intravena secara kontinyuinfus dihentikan --> efek obat cepat hilang -->karena terhidrolisis yg cepa dikatalisis oleh butirilkolinesterase di plasma % hatinyeri otot terjadi: untuk meminimalkanya suksinilkolin dosis rendah blocker kompetitif diberikan sebelumnyasistem saraf pusatTubokurarin dan blocker neuromuscular kuartenen tidak mampu menembus sawar darah-otak tidak ada efek efek pusat

Satu satunya kerja senyawa ini pada anestesia efek paralisis perifer pada otot rangkaGanglia autonom dan situs muskarinik Bloker neuromuskular mem blok ganglion dengan potensi yang berbeda-bedaCth : motor end plate,blokade ganglion oleh tubokurarin dan obat-obat antagonisPelepasan Histamintubokurarin menyebabkan bentol-bentol mirip histamin pada manusia akibat pelepasan histaminKerja bloker neuromuskular dengan implikasi yang membahayakan jiwaHiperkalemia yang di induksi suksinilkolin merupakan salah satu komplikasi obat yang membahayakan obat .Contoh : perubahan distribusi k+ ditujukan untuk pasien gagal jantung yang diberi digitalis Catatan : pemberian bloker pendepolarisasi pada pasien luka bakar yang luas di jaringan lunak harus hati-hati.

Sinergisme dan AntagonismeInteraksi farmakologis yang penting pada obat-beberapa anestetik umum -antibiotik tertentu-bloker saluran Ca2+-senyawa-senyawa anti-ChEMengapa harus senyawa anti-ChE?Karena senyawa anti-ChE neostigmin,piridostigmin,dan edrofonium mempertahankan Ach endogen dan juga bekerja langsung pada taut neomuskular Suatu agonis muskarinik digunakan bersama-sama untuk mencegah perlambatan frekuensi jantung.Namun,senyawa anti-ChE sinergis dengan bloker pendepolarisasi,terutama pada fase awal kerjanya.Banyak senyawa1.Senyawa anestetik inhalasi efek penstabil pada membran pasca taut sehingga bekrja sinergis dengan bloker kompetitif 2.Antibiotik aminoglikosida blokade neomuscular dg menghambat AcCh dari ujung pragangliomcMacam-macam obat yang memiliki interaksi yang signikan dengan neuromuskular kompetitif-trimetafan,analgesik opioid,prokain,lindokain,kuinidin,fenelzin,fenitoin,propanolol,garam magnesium,kortikosteroid,glikosida digitalis,klorokuin,senyawa katekolamin,dan diuretikToksikologi Respon yg tak diiginkan pada penggunaan bloker neomuskular antara lain apnea yang lama,kolaps kardiovaskular,dan efek-efek yang diakibatkan dari pelepasan histamin Hipertermia malignanperistiwa yang membahayakan jiwa yg dicetuskan pemberian anestestik dan bloker neuromuskular tertentu.Peristiwa ini diawali dg pelepasan ca2+ tak terkendali dari retikulum sarkoplasma otot rangka.Pengobatan terkini memerlukan dantrolen secara intravena , yang memblok pelepasan Ca2+ dan metabolisme menyertainyaParalisis pernafasanPengobatan paralisis pernafasan yang disebabkan oleh reaksi merugikan atau overdosis suatu bloker neomuskular,harus dilakukan dengan memberikan pernafasan buatan bertekanan-positif dengan oksigen dan menjaga jalan nafas agar tetap terbuka sampai perlepasan normal dipastikan telah pulih , dipercepat dengan pemberian neostigmin etilsulfat dan edrofoniumStrategi Intervensi untuk Efek toksin lainNeostigmin efektif mengantagonis kkerja pemblokan otot rangka oleh bloker kompetitif memperburuk efek samping seperti hipotensi atau menginduksi bronkospasme-amin simpatomimetikmembantu tekanan darah-atropin atau glikopirolat melawan stimulasi muskarinik-antihistamin.melawan respon yang menyertai pelepasan histaminAbsorpsi,Nasib,dan EkskresiBloker neomuskular golongan amonium kuarterner diabsorpsi dari saluran gastrointestinal dengan sangat buruk dan tak teratur.Jika diberikan bloker kompetitif kerja-lama , seperti d-tubokurarin dan pankuronium,blokadde dapat berkurang setelah 30 menit karna redistribusi obat,namun blokade residual dan kadar obat dalam plasma bertahan untuk waktu yang lebih lamaPenghentian blokade neomuskular yang lebih cepat dengan senyawa-senyawa berdurasi sedang membuktikan bahwa senyawa-senyawa ini lebih baik diberikan dalam dosis bertahap daripada memberikan bloker neomuskular durasi lama dalam dosis tunggal.Penggunaan TerapeutikPenggunaan klinis utama blocker neuromuscular adalah sebagai adjuvan pada anestesia pembedahan untuk menghasilkan relaksasi oto rangka,khususnya pada dinding abdomenBlocker neuromuscular tidak dapat digunakan untuk menggantikan kedalaman anestesia yang tidak memadai dibidang pembedahanRisiko munculnya respon refleks terhadap stimulus nyeri dan ingatan sadar dapat terjadiBlocker neuromuscular berdurasi singkat sering digunakan untuk mempermudah intubasi dengan pipa endotrakea dan telah digunakan untuk mempermudah laringoskopi,bronkoskopi dan esofagoskopi dalam kombinasi dengan senyawa anestetik umum.Pengukuran Blokade Neuromuscular pada ManusiaRespon ini dipantau dari gabungan potensial aksi senyawa atau tegangan oto yang berkembang di otot ibu jariRespon secara berulang sangat bermanfaat untuk menilai blokade transmisi karena masing-masing pengukuran tegangan harus dikaitkan dengan nilai kontrol yang diperoleh sebelum pemberian obatLaju onset blokade dan pemulihan lebih cepat pada sistem otot-otot jalan napasPenggunaan untuk mencegah trauma selain terapi kejutTerapi elektrokonvulsif pada kelainan psikiatri sulit dilakukan karna menimbulkan trauma bagi pasien,seizure yang diinduksi dapat menyebabkan frakturSuksinilkolin atau mivakurium sering digunakan karna relaksasinya singkatPengendalian Spasme OtotBeberapa senyawa telah digunakan untuk mengobati spastisitas yang melibatkan neuron -motorik dengan tujuan meningkatkan kapasitas fungsi dan meredakan kegelisahanBeberapa senyawa yang bekerja pada pusat yang lebih tinggi di SSP termasuk baklofen,golongan benzodiazepin,dan tizandinToksin botulinum dan dantrolen bekerja di periferBakteri anaerob Clostridium botulinum menghasilan sekelompok toksin yang targetnya protein prasinaps dan memblok pelepasan asetilkolinToksin botulinum yang awalnya disetujui untuk pengobatan strabismus dan blefarospasme pada mata dan untuk spasme hemifasial,digunakan lebih luas untuk mengobati spasme dan distonia seperti disfonia spasmodik adduktor,distonia oromandibular,distonia serviks dan berbagai spasme yang terjadi pada sfingter esofagus bagian bawah dan fisura analDantrolen menyebabkan kelemahan menyeluruh karena kerjanya diperifer sehingga penggunaannya harus dikhususkan untuk pasien rawat inaps yang mengalami spastisitas parahterimakasih